Resah.

Ketika berusia 4 tahun, sang dara selalu memiliki rambut hitam yang menjuntai panjang. Terlihat riang serta dibalut kasih sayang yang meluap-luap, kekhawatirannya ketika itu hanya takut kehabisan energi untuk bermain. Hingga ratusan purnama berlalu surai indah itu masih dikibaskan seiring sang dara berjalan, sampai akhirnya kabut mulai turun, perlahan menggiring sang dara menuju kelam. Entah sejak kapan memotong rambut menjadi sebuah distraksi, yang juga disaat bersamaan kerap kali menjadi identitas baru. Menutup luka juga sang kelam dengan mengorbankan helai legam menjadi putih pucat. Mungkin jika surai mampu bicara ia akan berteriak, karena sama lelahnya dengan dara.
Sampai dititik ini memotong rambut tidak bisa menjadi satu-satunya solusi lagi, keresahan yang datang kian beragam dan terus menghantui. Lantas apa yang bisa dilakukan? Mungkin menonton film agar ikut terhanyut dalam dunianya, memutari kota Bandung dengan lagu-lagu yang mengalun lembut, juga berbincang ringan bersama teman. Tapi kembali lagi, semua itu hanya distraksi.
Ketakukan yang kerap kali terlintas dalam kepala sebenarnya belum tentu kan terjadi, itu hanya sebuah bentuk angan dalam konotasi negatif yang jelas harus dihindari. Menjadi dewasa ternyata tidak seindah yang dulu dibayangkan; kebebasan, namun dalam hidup apakah kita benar-benar dapat bergerak bebas? Bahkan untuk bernapas pun ada aturannya. Maka jangan berlari, hadapilah semua yang menghalangi jalan dengan perlahan namun pasti.
Saat ini salah satu kekhawatiran yang tengah dirasa adalah progress, orang-orang disekitar terasa begitu jauh dengan pencapaiannya masing-masing. Dan disinilah sang dara, masih saja terbelenggu dalam ilusi yang ia ciptakan sendiri. Namun ada seseorang yang pernah berkata, progress tetaplah progress sekecil apapun itu, dan benar adanya bahwa tiap-tiap orang memiliki kemampuan dan juga jalan berbeda. Maka tidak ada salahnya untuk merasa resah, dan teruslah berjalan karena garis finis masih berada diseberang sana.
Ketika dalam perjalanan menuju garis finis pastilah kan terasa melelahkan, tidak ada salahnya untuk beristirahat sejenak dan sesekali menangis tuk meluapkan emosi. Walau terkadang menunjukan emosi adalah suatu hal yang memalukan, namun pada dasarnya tidak ada yang salah. Jika memang bersembunyi dalam gelap adalah solusi yang baik, maka bersembunyilah, namun jika berjalan dibawah sinar kan terasa menyenangkan maka tunjukanlah, karena yang terpenting semua hal yang kita rasa dapat tersalurkan dengan baik. Menangislah jika ingin menangis, karena itu kan terasa lega.
Pada akhirnya keresahan kan selalu berjalan beriringan, maka terbiasalah dengan hal itu. Yakini bahwa tiap-tiap hal buruk kan terganti menjadi baik, apapun yang tengah kita jalani sekarang, nikmatilah. Semua hal yang kita lalui kan menjadi kenangan manis seiring berjalannya waktu, percayalah sosok diri dimasa depan kan berterimakasih pada apa yang telah kita jalani selama ini.
Terimakasih Dara, sudah bertahan sejauh ini.
Comments