Berlanjut atau berlalu?
Pun bukan hanya sekedar rasa, tertoreh sedikit luka. Entah apa, kelabu atau biaskah pikirmu, aku tak dapat menerka isi kepala. Saban hati berlalu, hanya ada rasa yang kian membelenggu. Benar sang puan menaruh hati, tapi tidak terlalu buta untuk merasa bahwa semuanya tidak baik-baik saja, walau ketika pesan sampai mampu menghapus sendu, ketika gelap menerjang pikiran itu kan kembali.
Benarkah sang tuan menaruh hati? Atau sekedar berlabuh karena tak percaya diri; akan jisim pun pikir yang mengambang. Pertanyaan kerap muncul, apakah sulit tuk mengutarakan yang tersirat dalam benak? Biar aku tak selalu menerka yang berakhir menyeka air mata. Aku takut, takut jika lelahku datang ego kan menggiringku tuk lepas dari ikatan ini.
Comments