Pikir atau hatikah?
Samar-samar kian terasa, ada benturan dalam diri. Haruskah sang puan berlalu atau kian larut dalam rasa yang membelenggu. Pun ia tau bahwa tenggelam dalam ilusi bukanlah sebuah opsi, namun buaimu terus menghanyut jisim dan juga isi kepala, bayang imajiner terus melekat menaruh sedikit harap jika esok kan menjadi baik.
Ego yang kian berkecamuk selalu tenggelam dalam hamparan taman bunga, sisi yang lain terus menarik diri dan menyadari bahwa sang puan tengah berdelusi.
Ada banyak bayang menghampiri, menaruh iba dan berkata jika dara tak berakal. Lantas apa? Ingin memutus rantai tak cukup hanya dengan gunting kecil. Kan kubiarkan sang puan tenggelam dalam rasa, mengurung diri dalam kolam berbisa, sampai nanti ia kehabisan cara tuk tetap menghirup udara kan kubawa engkau duhai puan; menuju nirmana yang selalu didamba. Bebaslah wahai jiwa.
Comments