top of page

Kelu kelabu.

Writer: Luna lara
Luna lara
Oct 7, 2021
1 min read

Tiap kali baskara mengurung diri dan sang luna memendar cahaya, sebuah awan kelabu kan datang menutup kedua iris sang dara; sekon kemudian terdasar jika bumantara tengah menuang rintik hujan. Pun badai datang dan berkecamuk dalam benak. Apakah berhak sosok sendu mencinta ia yang dilindungi oleh sang baskara? Engkau pun sesekali menggelitik dengan kalimat yang kerap kali kau lontarkan; sang puan hanya menahan diri agar tak tenggelam dalam bualan.

Sesaat terbesit; oh duhai engkau sang mentari, aku telah menjadi bulan, apa itu saja tidak cukup? Menaruh ekspektasi bukanlah hal yang patut, hanya ingin mengalir bersama desir ombak.

Tak perlu kau hujani aku dengan kata yang tak seharusnya kau beri. Meski sang dara menggemaskan sekalipun, simpan saja itu untukmu sendiri. Karena aku kan menjadi kelu, ditutupi awan kelabu.

 
 
 

Recent Posts

See All
Rasa.

Binar cahaya pada netra sang tuan tak pernah gagal menggiring perasaan menggelitik, mengukir kurva samar pada roman. Ingin selalu berada...

 
 
 
Pikir atau hatikah?

Samar-samar kian terasa, ada benturan dalam diri. Haruskah sang puan berlalu atau kian larut dalam rasa yang membelenggu. Pun ia tau...

 
 
 
Berlanjut atau berlalu?

Pun bukan hanya sekedar rasa, tertoreh sedikit luka. Entah apa, kelabu atau biaskah pikirmu, aku tak dapat menerka isi kepala. Saban hati...

 
 
 

Comments


Drop Me a Line, Let Me Know What You Think

Thanks for submitting!

© 2023 by Train of Thoughts. Proudly created with Wix.com

bottom of page